Membedah Cara Bung Tomo Menyulut Gelora di Surabaya Lewat Radio
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Inilah taktik psikologis dan teknik mobilisasi rakyat yang dipakai Bung Tomo untuk mengubah Surabaya menjadi kota pertempuran paling heroik di Indonesia. (Ilustrasi gambar by AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Bayangkan sebuah kota yang porak-poranda, asap mengepul dari tiap sudut jalan, dan suara tembakan bersahutan seperti pesta kembang api yang mencekam. Jauh sebelum berita-berita perlawanan bisa disebar lewat satu sentuhan jempol di ponsel, ada satu suara yang memecah ketakutan jadi keberanian. Suara itu milik seorang pemuda berkacamata, bersafari lusuh, yang berdiri di depan mikrofon stasiun radio darurat. Dialah Bung Tomo. Rabu, (12/8).
Mungkin cuma segelintir tokoh yang bisa mengubah gelombang kepanikan massal menjadi barisan siap tempur hanya lewat lantunan kata-kata. Bung Tomo bukan sekadar orator. Ia adalah arsitek semangat yang membangun ulang jiwa rakyat Surabaya yang nyaris remuk dihajar ultimatum. Di era ketika informasi adalah amunisi, Bung Tomo memilih taktik propaganda radio berdaya ledak dan mobilisasi rakyat lewat simpul-simpul kampung. Inilah metode yang sebenarnya sederhana, tapi efeknya seperti bensin yang disiram ke bara api.
Harus diakui, saat itu banyak yang mengira Surabaya akan menyerah. Tapi radio-radio gelap dan seruan langsung dari mulut ke mulut yang dikomandoi Bung Tomo membuktikan bahwa perang bukan cuma soal peluru, melainkan juga urusan hati yang berhasil diaduk-aduk.
Kenapa Suara Bung Tomo Begitu Membahana?
Pernah dengar istilah “musuh terbesar adalah rasa takut kita sendiri”? Nah, itulah yang dilawan Bung Tomo. Di bulan Oktober dan November 1945, Surabaya itu seperti keran raksasa yang siap meledak. Pasukan Sekutu yang diboncengi NICA mendarat dengan senjata modern, tank, dan pesawat tempur. Di sisi lain, arek-arek Suroboyo cuma bermodalkan bambu runcing dan senjata rampasan. Secara logika, ini pertarungan yang timpang.
Masalahnya bukan cuma di alat perang. Jauh lebih dalam, musuh yang harus dikalahkan dulu adalah ketakutan dan mental “kita pasti kalah”. Dari sinilah Bung Tomo masuk. Dia paham betul, sebelum berperang melawan tentara asing, rakyat harus menang dulu melawan batinnya sendiri. Caranya? Dengan menggelorakan narasi heroik dan menciptakan musuh bersama yang jelas melalui corong radio. Dia tidak menyampaikan berita, tapi membangun keyakinan.
Panduan Menyalakan Semangat Perlawanan ala Bung Tomo
Bung Tomo dan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) tidak cuma sekadar ngomong keras-keras di radio. Ada struktur mobilisasi massal yang bisa kita pelajari. Jika kita bedah, begini tahapan yang membuat Surabaya berani melawan meski nyawa jadi taruhannya.
1. Kuasai Medium Komunikasi yang Paling Merakyat
Ini langkah paling krusial. Bung Tomo sadar, di tahun 1945, nggak semua orang bisa baca koran atau paham selebaran. Tapi hampir di setiap sudut kampung, ada radio. Entah itu milik pribadi, milik balai desa, atau radio umum yang dinyalakan keras-keras. Dia memilih Radio Pemberontakan sebagai alat utama. Mengapa bukan pidato keliling? Karena pidato keliling terbatas jangkauannya. Radio bisa menembus jarak, membuat satu suara didengar oleh ribuan telinga secara bersamaan. Efeknya? Rasa kebersamaan itu instan tercipta. Pendengar merasa, “Oh, aku tidak sendiri.”
2. Bangun Narasi “Kita vs. Mereka” yang Jelas dan Tajam
Dengarkan lagi rekaman orasi Bung Tomo. Dia nggak bertele-tele. Ada dua kubu yang dia gambar dengan sangat tegas: rakyat Surabaya yang tertindas dan penjajah yang ingin kembali berkuasa. Dia menggunakan diksi keagamaan yang kuat (“Allahu Akbar!”) yang langsung menyentuh sisi spiritual mayoritas pejuang. Ini teknik psikologis brilian. Ketika sebuah konflik dibingkai sebagai perjuangan suci, ketakutan akan kematian berubah menjadi kerinduan akan kesyahidan. Sederhana, tapi dampaknya dahsyat.
3. Pimpin Langsung, Jangan Cuma Suruh dari Belakang
Ini yang membedakan provokator bayaran dengan pemimpin sejati. Bung Tomo mendirikan dan memimpin langsung BPRI. Dia tidak hanya berteriak “Serbu!” dari studio radio yang aman, lalu pulang. Dia ada di lapangan, bergerilya, ikut mengatur strategi. Ketika rakyat tahu bahwa pemimpin yang mengomando lewat radio juga sama-sama basah kuyup di medan laga, kepercayaan itu muncul total. Di tahap ini, sabar ya kalau kita mencerna nilainya. Keberanian itu menular. Ketika satu pemimpin berdiri di depan, tanpa sadar kaki-kaki yang tadinya gemetar jadi ikut melangkah maju.
4. Abaikan Ancaman, Pertegas Harga Diri Kolektif
Ultimatum Mayor Jenderal Mansergh adalah titik baliknya. Isinya kasar: menyerah atau Surabaya dihancurkan. Daripada gentar, Bung Tomo justru menjadikan ultimatum ini sebagai bahan bakar. Dia memelintir ketakutan menjadi penghinaan terhadap harga diri. “Kita ini merdeka! Kenapa harus menyerah pada orang asing yang baru datang?” Kira-kira begitu pesan yang disampaikan. Tekniknya bukan menenangkan, tapi justru membakar emosi. Dalam kondisi terkepung, emosi kemarahan yang terarah jauh lebih berguna daripada logika yang membuat orang berpikir dua kali untuk maju.
5. Ciptakan Simbol Perlawanan yang Membumi
Bung Tomo dan kawan-kawan tidak menciptakan seragam mewah. Ikon perlawanan mereka adalah lengan baju yang digulung, ikat kepala merah putih, dan bambu runcing. Benda-benda ini sangat inklusif; siapa saja bisa memilikinya. Tak perlu biaya mahal untuk jadi pejuang. Ini cerdas secara sosial. Dengan simbol yang sederhana, setiap orang—dari tukang becak, petani, hingga pemuda putus sekolah—bisa merasa menjadi bagian dari tentara rakyat. Identitas “Pejuang Surabaya” jadi milik bersama.
- Penulis: Ruang Gentur

